
Bab 1: Kabar yang Mengusik
Kami bertiga tumbuh bersama. Kakak—yang sekelas denganku dan kini resmi menjadi kekasihku—selalu menjadi poros duniaku. Sementara Mirei, adik yang tiga tahun lebih muda, perlahan punya jarak sendiri.
Hari itu, aku melangkah ke rumahnya untuk membawa kabar besar: Kami berpacaran.
Alih-alih senyum restu, wajah Mirei justru kelam. Keningnya berkerut, bibirnya membeku dalam garis masam.
Apakah ia marah karena merasa ‘miliknya’ direbut? Pikirku waktu itu. Ternyata, aku salah besar.
Bab 2: Provokasi di Balik Pintu
Undangan berikutnya datang. Aku datang tanpa curiga—sampai pintu terbuka dan akal sehatku nyaris korsleting.
Pakaian Mirei… terlalu terbuka. Nyaris meluber keluar.
“Hei, Mirei! Ada apa dengan pakaianmu itu?!” tukasku panik.
“Kenapa? Lucu, kan? Santai saja, ini rumahku,” balasnya enteng.
Belum sempat aku bergeser, tubuhnya merapat. Hangat, provokatif, dan terang-terangan menempel di dadaku. Tatapan sinis hari itu berubah wujud: itu bukan kebencian, melainkan rasa kepemilikan yang tertunda.
Bahkan dalam jarak dekat dengan Kakak, nyalinya justru menjadi-jadi. Ia memamerkan celah kerapuhan itu, menyeret-ku masuk ke dalam perangkap yang diam-diam kuinginkan.
Bab 3: Garis yang Terlanggar
Batas itu runtuh perlahan. Di saat Kakak lelap dibekap mabuk, kendali berpindah sepenuhnya ke tangan Mirei.
Sentuhan yang mulanya hanya gertakan berubah jadi aksi nyata di dalam bayang-bayang. Buruk? Ya, ini salah besar. Aku tahu aku sedang mengkhianati garis aman ini.
Tapi sensasi di bawah kendalinya… terlalu manis untuk dihentikan.
