Wgfilm21 sponsor

The King’s Letters (2019) Sub Indo

16 voting, rata-rata 7.0 dari 10

🎬 Sinopsis Film The King’s Letters (2019): Kisah Mengharukan di Balik Terciptanya Huruf Hangul Korea

Sinopsis Film The King’s Letters – Bagi para pecinta sinema Korea Selatan, genre sejarah atau sageuk selalu memiliki tempat tersendiri di hati penonton. Salah satu mahakarya sinematik yang wajib Anda tonton adalah The King’s Letters (2019) (bahasa Korea: Naratmalssami). Film ini tidak hanya menawarkan visual yang memanjakan mata, tetapi juga membawa kita menyelami salah satu peristiwa paling bersejarah bagi bangsa Korea: penciptaan alfabet Hangul.

Jika Anda sedang mencari tontonan yang menggabungkan intrik politik istana, drama emosional, dan nilai edukasi sejarah yang tinggi, maka film ini adalah jawabannya. Dalam artikel ini, kita akan membahas tuntas Sinopsis Film The King’s Letters (2019), mulai dari daftar pemain, profil sutradara, budget produksi, hingga kontroversi yang sempat menyelimuti perilisannya.

 

πŸ“Œ Informasi Umum Film The King’s Letters (Movie Details)

Sebelum masuk ke dalam ulasan cerita yang lebih dalam, mari kita lihat detail informasi teknis mengenai film sejarah Korea yang sangat fenomenal ini:

Keterangan Detail
Judul Asli λ‚˜λžλ§μ‹Έλ―Έ (Naratmalssami)
Judul Internasional The King’s Letters
Tahun Rilis 24 Juli 2019 (Korea Selatan)
Sutradara Jo Chul-hyun
Penulis Naskah Jo Chul-hyun, Lee Song-won
Genre Sejarah (Historical), Drama, Biografi
Durasi 110 Menit
Distributor Megabox Plus M
IMDb ID tt33071426
TMDb ID 572988

πŸ“œ Sinopsis Film The King’s Letters (2019) Terlengkap

Alur cerita Film The King’s Letters (2019) berpusat pada perjuangan keras Raja Sejong yang Agung pada masa Dinasti Joseon. Berbeda dengan film dokumenter biasa, film ini menyoroti sisi kemanusiaan, rasa frustrasi, dan pengorbanan rahasia yang tidak banyak tercatat dalam buku sejarah arus utama. Berikut adalah pembagian babak ceritanya:

πŸ‘‘ Ambisi Mulia Raja Sejong di Tengah Kebutaan Aksara

Pada awal abad ke-15, Dinasti Joseon masih menggunakan aksara Tiongkok (Hanja) sebagai bahasa tulis resmi. Namun, Hanja memiliki ribuan karakter yang sangat rumit dan sulit dipelajari. Akibatnya, hanya kaum bangsawan (Yangban) dan cendekiawan yang mampu membaca dan menulis. Rakyat jelata hidup dalam kebutaan aksara, membuat mereka mudah ditipu, dieksploitasi, dan tidak bisa membela hak-hak mereka di mata hukum.

Melihat penderitaan rakyatnya, Raja Sejong (diperankan oleh Song Kang-ho) merasa hancur. Ia bertekad untuk menciptakan sebuah sistem tulisan baru yang sangat mudah dipelajari oleh siapa saja, bahkan oleh rakyat paling miskin sekalipun. Namun, niat mulia ini ditentang keras oleh para menteri dan cendekiawan istana. Mereka menganggap bahwa menciptakan huruf baru adalah bentuk pemberontakan terhadap Kekaisaran Ming (Tiongkok) dan akan meruntuhkan hierarki sosial yang menguntungkan kaum bangsawan.

πŸ“Ώ Pertemuan Rahasia dengan Biksu Shin-mi

Di tengah jalan buntu dan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk (Raja Sejong menderita diabetes hingga nyaris buta), ia mendengar tentang seorang biksu Buddha yang ahli dalam ilmu fonetik dan menguasai bahasa Sanskerta, Tibet, serta bahasa Asia lainnya. Biksu tersebut bernama Shin-mi (diperankan oleh Park Hae-il).

Dinasti Joseon pada saat itu menganut ajaran Neo-Konfusianisme yang sangat ketat dan sangat menekan ajaran Buddha. Membawa seorang biksu ke dalam istana adalah sebuah kejahatan besar dan skandal politik yang bisa mengancam takhta Raja. Namun, demi cintanya kepada rakyat, Raja Sejong secara diam-diam membawa Biksu Shin-mi dan murid-muridnya ke sebuah paviliun rahasia di dalam istana.

✍️ Proses Penciptaan Hangul yang Penuh Air Mata

Proses penciptaan Hangul bukanlah hal yang mudah. Film ini secara detail memperlihatkan bagaimana Raja Sejong dan Biksu Shin-mi sering kali berdebat keras. Raja Sejong mewakili pandangan pragmatis seorang penguasa, sementara Shin-mi membawa sudut pandang linguistik dan spiritual.

Mereka menganalisis struktur suara manusia, bentuk mulut saat mengucapkan huruf, hingga mengadaptasi prinsip-prinsip kosmologi. Desain awal Hangul dirancang meniru bentuk organ ucapan (lidah, langit-langit mulut, tenggorokan). Adegan di mana mereka menghabiskan waktu berhari-hari tanpa tidur, menulis di atas pasir, mencoret-coret kertas, hingga akhirnya menemukan sistem konsonan dan vokal yang revolusioner adalah salah satu momen paling emosional dalam Sinopsis The King’s Letters ini.

βš”οΈ Ketegangan Politik dan Pengorbanan Sang Ratu

Semakin dekat mereka dengan penyelesaian alfabet tersebut, semakin besar pula ancaman dari para menteri. Mata-mata di dalam istana mulai mengendus proyek rahasia ini. Para cendekiawan istana mengancam akan melakukan mogok masal dan mendesak Raja untuk menghentikan proyek “huruf vulgar” tersebut.

Di sinilah peran Ratu Soheon (diperankan oleh Jeon Mi-seon) menjadi sangat krusial. Sang Ratu, yang keluarganya telah dihancurkan oleh intrik politik di masa lalu, bertindak sebagai perisai pelindung bagi suaminya. Ia memfasilitasi pertemuan rahasia dan mendukung penuh penciptaan alfabet ini, bahkan ketika hal itu mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Mampukah Raja Sejong dan Biksu Shin-mi menyelesaikan alfabet tersebut sebelum ketahuan oleh pihak oposisi? Anda harus Nonton The King’s Letters untuk melihat epiknya puncak konflik intelektual dan politik ini.

🎭 Daftar Pemain (Cast) Film The King’s Letters

Keberhasilan film ini dalam membawakan emosi yang mendalam tidak lepas dari kualitas akting tingkat dewa para jajaran pemainnya. Berikut adalah Pemain The King’s Letters beserta karakter yang mereka perankan:

1. Song Kang-ho sebagai Raja Sejong

Nama Song Kang-ho sudah tidak perlu diragukan lagi di industri perfilman Korea Selatan (ia adalah bintang utama Parasite dan A Taxi Driver). Dalam film ini, Song Kang-ho berhasil menampilkan sosok Raja Sejong tidak hanya sebagai pemimpin yang agung, tetapi juga sebagai manusia biasa yang rapuh, frustrasi, penyakitan, namun memiliki cinta yang luar biasa besar untuk rakyatnya.

2. Park Hae-il sebagai Biksu Shin-mi

Aktor karismatik Park Hae-il memerankan Biksu Shin-mi dengan sangat brilian. Ia menampilkan sosok biksu yang keras kepala, tidak takut pada otoritas raja, namun memiliki kecerdasan linguistik yang luar biasa. Dinamika “benci tapi butuh” antara karakternya dengan Raja Sejong menjadi daya tarik utama film ini.

3. Jeon Mi-seon sebagai Ratu Soheon

Film ini menjadi sangat emosional bagi masyarakat Korea karena The King’s Letters (2019) adalah karya terakhir mendiang aktris senior Jeon Mi-seon. Ia meninggal dunia secara tragis beberapa minggu sebelum film ini resmi ditayangkan. Penampilannya sebagai Ratu Soheon yang bijaksana, kuat, dan penuh kasih sayang menuai pujian luar biasa dari para kritikus.

4. Kim Jun-han sebagai Putra Mahkota Munjong

Kim Jun-han (yang juga dikenal lewat Hospital Playlist) memerankan Putra Mahkota Munjong. Ia harus terjebak di antara kesetiaannya pada ideologi cendekiawan Konfusius dan baktinya kepada sang ayah, Raja Sejong.

5. Tang Jun-sang sebagai Hak-jo

Aktor muda berbakat Tang Jun-sang turut hadir memerankan salah satu murid Biksu Shin-mi yang membantu proses penerjemahan dan penulisan alfabet.

🎬 Profil Sutradara dan Penulis Naskah

Film ini disutradarai oleh Jo Chul-hyun, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis naskah handal untuk film-film bertema sejarah yang meledak di pasaran seperti The Throne (Sado). The King’s Letters menandai debut penyutradaraannya.

Bersama rekan penulisnya, Lee Song-won, Jo Chul-hyun menghabiskan waktu bertahun-tahun meriset asal-usul penciptaan Hangul. Ia tertarik pada teori alternatif yang menyatakan bahwa Hangul tidak diciptakan secara eksklusif oleh para cendekiawan Jiphyeonjeon (Hall of Worthies) seperti yang diyakini secara umum, melainkan ada campur tangan ilmu fonetik dari ajaran Buddha yang dibawa oleh Biksu Shin-mi.

πŸ’° Budget Produksi dan Box Office

Membuat film sejarah (sageuk) dengan set istana yang megah dan kostum hanbok tradisional yang otentik tentu memakan biaya besar.

  • Budget Film: The King’s Letters menghabiskan dana produksi sekitar 13 Miliar KRW (setara dengan sekitar 10 Juta USD atau Rp 150 Miliar). Anggaran ini banyak dialokasikan untuk desain set, kostum dinasti, dan efek sinematografi resolusi tinggi.

  • Pendapatan (Box Office): Film ini tayang perdana pada musim panas 2019, bersaing langsung dengan film-film blockbuster raksasa dari Hollywood seperti The Lion King, Aladdin, dan Spider-Man: Far From Home. Film ini meraup pendapatan kotor sekitar $6,454,970 secara global.

Meskipun secara komersial sempat tertatih karena jadwal rilis yang ketat dan kontroversi internal, film ini berhasil menduduki peringkat tinggi untuk kategori film domestik di Korea Selatan pada minggu peluncurannya.

⭐ Rating Film The King’s Letters dan Review Penonton

  • IMDb Rating: Pada platform internasional IMDb, The King’s Letters mendapatkan rating 6.4/10 dari ratusan ulasan pengguna.

  • TMDb: Mendapatkan apresiasi yang cukup hangat dari penikmat sejarah sinema Asia.

Review Penonton: Banyak kritikus memuji sinematografi yang indah dan penampilan akting yang luar biasa dari trio Song Kang-ho, Park Hae-il, dan Jeon Mi-seon. Adegan-adegan di mana suara alam (angin, air, burung) divisualisasikan menjadi bentuk huruf sangat dipuji karena nilai seninya. Namun, film ini mendapat review yang sedikit terbelah dari audiens lokal Korea karena alasan sejarah (baca bagian kontroversi di bawah).

βš”οΈ Kontroversi dan Fakta Menarik di Balik The King’s Letters

Untuk memperkaya wawasan Anda, ada sebuah fakta yang wajib Anda ketahui sebelum Nonton The King’s Letters. Saat pertama kali rilis di bioskop Korea Selatan, film ini sempat menuai protes dan boikot. Mengapa?

  1. Distorsi Sejarah: Mayoritas masyarakat Korea diajarkan bahwa Raja Sejong dan para cendekiawan istana (Jiphyeonjeon) yang secara eksklusif menemukan Hangul. Namun, film ini mengambil “Teori Shin-mi”, sebuah teori alternatif yang menyatakan bahwa biksu Buddha-lah yang memainkan peran paling krusial. Hal ini membuat marah beberapa sejarawan puritan.

  2. Klarifikasi Sutradara: Sutradara Jo Chul-hyun bahkan harus merilis pernyataan resmi bahwa film ini adalah sebuah dramatisasi fiksi yang didasarkan pada salah satu dari banyak hipotesis sejarah, demi menciptakan ketegangan sinematik, bukan untuk menulis ulang buku sejarah resmi negara.

  3. Surat Wasiat Kematian: Film ini diawali dengan pesan penghormatan (tribute) untuk Jeon Mi-seon, meninggalkan kesan melankolis yang sangat pekat bagi para penonton di bioskop.

πŸ’‘ Pesan Moral dari Film The King’s Letters

Tidak sekadar menyajikan hiburan, sinematografi indah, dan fakta sejarah, film ini sarat akan pesan moral yang sangat relevan hingga masa kini:

  • Kesetaraan Pendidikan: Raja Sejong membuktikan bahwa pendidikan dan literasi bukanlah hak istimewa kaum kaya, melainkan hak asasi seluruh manusia.

  • Toleransi Beragama: Meskipun sistem menolak keberadaan Buddha, Raja Sejong bersedia menurunkan egonya dan bekerja sama dengan Shin-mi demi tujuan yang lebih besar, membuktikan bahwa kolaborasi antar keyakinan bisa melahirkan mahakarya.

  • Keberanian Melawan Status Quo: Terkadang, untuk menciptakan inovasi (dalam hal ini, huruf Hangul), kita harus siap dibenci oleh sistem yang lama.

❓ FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar The King’s Letters)

1. Apakah film The King’s Letters (2019) diangkat dari kisah nyata?

Ya dan tidak. Karakter Raja Sejong dan penciptaan Hangul adalah fakta sejarah sejati (terjadi pada tahun 1443). Namun, peran besar Biksu Shin-mi dalam film ini adalah hasil dramatisasi dari salah satu teori alternatif (hipotesis), bukan sejarah arus utama Korea.

2. Di mana saya bisa nonton The King’s Letters Sub Indo?

Anda bisa menonton atau mengunduh film The King’s Letters dengan subtitle Indonesia melalui berbagai layanan streaming legal (VOD) yang menyediakan katalog film Asia seperti Viu, iQIYI, atau Catchplay (ketersediaan bisa berubah tergantung wilayah).

3. Siapakah penemu asli huruf Hangul Korea?

Berdasarkan sejarah resmi (buku Hunminjeongeum Haerye), huruf Hangul diciptakan secara pribadi oleh Raja Sejong yang Agung, yang kemudian dibantu penyempurnaannya oleh para sarjana dari Jiphyeonjeon (Hall of Worthies).

4. Berapa durasi film The King’s Letters?

Film ini memiliki runtime atau durasi tayang selama 110 menit (1 Jam 50 Menit), waktu yang cukup padat untuk sebuah film sejarah tanpa membuat penonton bosan.

5. Mengapa huruf Hangul sangat penting?

Sebelum Hangul, bahasa Korea diucapkan secara lisan tetapi ditulis menggunakan karakter Tiongkok (Hanja) yang tidak cocok dengan tata bahasa Korea. Hangul sangat saintifik, fonetis, dan mudah dipelajari sehingga berhasil memberantas buta huruf massal di era Joseon.

πŸ“ Kesimpulan

Sebagai penutup, Film The King’s Letters (2019) adalah sebuah karya sinema yang brilian, menggugah emosi, dan membuka mata kita tentang betapa sulitnya melahirkan sebuah literasi. Terlepas dari kontroversi akurasi sejarahnya, akting dari Song Kang-ho dan Park Hae-il membuat durasi 110 menit terasa sangat berharga. Jika Anda adalah pengelola blog film, atau sekadar penonton yang haus akan sejarah penciptaan huruf, film ini wajib masuk ke dalam daftar tontonan akhir pekan Anda.

“Sebuah tulisan tidak akan memiliki makna jika tidak ada mata yang bisa membacanya.” – Pesan tersirat dari perjuangan Raja Sejong.

Diposting pada:
Dilihat:5
Tagline:The history that we couldn’t record.
Tahun:
Durasi: 110 Min
Negara:
Rilis:
Bahasa:ν•œκ΅­μ–΄/쑰선말

Download The King’s Letters (2019) Sub Indo